welcome

a

2010-07-03

GURU SEBAGAI FASILITATOR BELAJAR


GURU SEBAGAI FASILITATOR BELAJAR






D
alam  dunia pendidikan pada era apapun dan dimanapun, guru adalah sosok sentral yang menempati posisi paling strategis di dalamnya. Betapa tidak, mereka adalah generasi yang berinteraksi secara langsung dengan generasi didik-para siswa. Merekalah yang mengantarkan para sisiwa dengan sentuhan-sentuhan insaninya yang bersifat intelektual, emosional/efektif, psikomotorik, dan mental spiritual kearah pembentukan kepribadian dan pengembangan berbagai kemampuan yang terkandung dalam tujuan pendidikan. Oleh sebab itu kehadiran mereka dalam sistem pendidikan merupakan bagian integral yang tak tergantikan oleh media pendidikan yang termodern sekalipun.

Demikian strategisnya posisi mereka, sehingga mereka bukan hanya sebagai determinan kualitas dan relevansi pendidikan serta pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, tetapi juga sebaliknya bila mereka menyeleweng sedikit saja, maka banyak pihak yang menyoroti mereka. Akan tetapi posisi strategis kelompok profesional tersebut hanya akan berarti apabila mereka memiliki komitmen yang besar terhadap tanggung jawab dan tugasnya, berdedikasi tinggi, memiliki pengetahuan, persepsi, wawasan dan sikap  yang tepat terhadap pendidikan dan anak didik serta menguasai materi, strategi/metodologi pembelajaran, penggunaan media/alat peraga, pengelolaan kelas, teknik-teknik evaluasi, dan layanan pembelajaran remedial, serta mampu menjadi suri teladan bagi para siswa dan lingkungan profesionalnya.

Dengan profil kepribadian dan kemampuan profesional semacam itu diharapkan setiap guru dapat mengisi posisi strategisnya secara efektif dengan memainkan peran sosial profesionalnya yang multi dimensional. Ya, memang guru adalah kelompok profesional yang memiliki peran majemuk.

Multi-peran guru ini telah diungkap oleh beberapa orang ahli. Salah satu diantara mereka adalah Mukti Ali (1974), yang mengatakan bahwa seorang guru memainkan beberapa peranan, yaitu sebagai pengajar, pemandu, penghubung (antara cita-cita dan nilai budaya bangsa lain dengan para siswa), teladan, konsultan, pendorong kreativitas siswa, pandita (sumber kebijaksanaan dan ilmu). Dan pembangunan masyarakat melalui modal insani. Sementara itu Pullias dan Young (1974) mengungkapkan ragam peran guru yang lebih banyak lagi. Mereka berpendapat bahwa ada 22 ( dua puluh dua ) peranan yang dapat dilakukan seorang guru, yaitu sebagai  pembimbing pengajar, modernisator, model. Penyelidik, konselor, pendorong kreativitas, orang yang berwewenang, inspirator, pandangan, pekerja rutin, pendobrak, pencerita, aktor, perancang adegan, pembangun masyarakat, pelajar, orang yang berani menghadapi kenyataan, emansipator, evaluator, pelestari/pemelihara budaya, kulminator, dan sebagai pribadi.

Kedua pendapat tersebut memperlihatkan demikian majemuknya peran yang dapat dilakukan oleh seorang guru. Padahal masih ada beberapa peran penting yang belum tercakup di dalamnya antara lain peran guru sebagai organisator dan fasilitator belajar. Dalam hubungannya dengan aneka ragam peran tersebut perlu dimaklumi bahwa guru yang baik adalah guru yang mau dan mampu melakukan multi-peran. Hal ini tentunya tidak mudah bagi kebanyakan  guru karena selain diperlukan  adanya komitmen yang kuat, juga diperlukan teknik dan seni penerapannya yang relevan, harmonis, wajar, dan efektif. Dalam hal ini sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) teknik aplikasinya, yaitu teknis sekuensial, dissolve, dan teknik situasional.

Tulisan sederhana ini memfokuskan pembahasannya pada peran guru sebagai fasilitator belajar. Dengan peran tersebut berarti guru bertindak sebagai orang yang berupaya menciptakan kondisi-kondisi yang memudahkan, menyenangkan, menumbuhkembangkan rasa ingin tahu, memotivasi, mengaktifkan, mengefektifkan dan menumbuhkembangkan kreativitas siswa dan kemampuannya untuk membelajarkan diri serta membuat prosses belajar berlangsung dalam jangka waktu yang layak. Dengan demikian, fasilitator belajar bukanlah seorang guru yang berperan sebagai orang yang menyediakan fasilitas belajar semata-semata, melainkan ruang lingkupnya sangat luas sebagaimana tercermin pada pengertian fasilitator tersebut diatas. Menyediakan fasilitas belajar hanyalah salah satu dimensi peranya. Lagi pula, bahwa fasilitas dimaksud tidak berbatas pada fasilitas fisik saja seperti buku, alat peraga dan bahan-bahan belajar lainnya, melainkan juga mencakup fasilitas psikologis.

Hal tersebut dapat dilihat pada tugas, kegiatan atau tindakan guru ketika berperan sebagai fasilitator belajar, yaitu sebagai berikut :
1.       Menyediakan sarana atau sumber belajar bagi para siswa, baik sumber belajar yang sengaja dirancang sebagai sumber belajar (by design), maupun sumber belajar yang tidak sengaja dirancang  sebagai sumber belajar tetapi dapat dimanfaatkan (by utilization) sebagai sumber belajar.
2.       Mengorganisasi/mengatur siswa-siswa, tempat duduk mereka serta sarana lain dikelas sesuai dengan ragam kegiatan pembelajaran sehingga mempermudah siswa baik untuk belajar maupun untuk berkomunikasi inter personal.
3.       Mencipatkan situasi yang menyenangkan melalui humor, cerita yang menarik, komunikasi inter personal yang diadic (intim, akrab sekali), dialog yang menjadikan dirinya sebagai pendengar yang baik dan menunjukkan sikap yang empatik, penampilan gambar yang menarik, pemberian kesempatan untuk berkomunikasi dengan sesamanya dan lingkungan sekitarnya, pemberian positive renforcement (penguatan positif) seperti pujian, penghargaan dan pemberian kesempatan untuk tampil didepan kelas atau menampilkan hasil karyanya.
4.       Menstimulasi, mengatur, mongontrol, membimbing dan memecahkan kebuntuan interaksi antara dirinya sebagai guru dan para siswanya serta  antar siswa yang satu dengan yang lain sehingga mempermudah pertukaran ide, pendapat, informasi dan pengalaman.
5.       membantu siswa untuk merumuskan dan menyatakan atau mengungkapkan keinginan, perasaan, hasrat, maksud, tujuan, cita-cita, ide dan pendapatnya baik kepadanya maupun kepada sesama siswa.
6.       menjamin terwujudnya situasi dimana setiap siswa menjadi sumber belajar bagi siswa-siswa lainnya.
7.       mengamati kegiatan dan perkembangan  performance para siswanya, serta menilai hasil belajar mereka.
8.       berupaya mendiagnosis kesulitan belajar siswa-siswanya, membuat rujukan,  mengupayakan terapi bagi siswa-siswa yang mengalami gangguan fisik/kesehatan maupun psikologis, serta memberikan layanan pembelajaran remedial.

Sementara itu agar guru tergerak hatinya serta mampu melakukan tugas-tugas seperti tersebut diatas,  maka yang pertama dan utama adalah adanya komitmen yang besar  terhadap profesi dan tugas sebagai guru. Komitmen yang besar akan menstimulasi dan mengembangkan motivasi atau etos kerjanya serta kedisiplinan dan dedikasinya. Ia akan berupaya memberikan apa yang terbaik bagi para siswanya sebagai generasi penerus yang ia cintai. Disamping itu seorang fasilitator belajar perlu memiliki sikap yang relevan.

Sehubungan dengan ini Carl Rogers (1983) mengungkapkan 4 (empat) ciri sikap fasilitator belajar, yakni realness, genuineness, trust, and empathy. Realness mengandung arti  bahwa seorang guru yang berperan sebagai fasilitator belajar perlu bersikap sesuai dengan kenyataannya sebagai manusia. Dengan demikian ia bisa tertawa, marah, diam, serius, cemberut, kecewa, santai, optimis, dan sebagainya.

Sementara itu genuineness berarti bahwa pada saat guru berperan sebagai fasilitator belajar, hendaknya ia memperlilhatkan keasliannya, yakni bersikap dan bertindak sesuai dengan karakter atau tipe kepribadiannya, serta kelebihan dan kelemahannya. Akan tetapi agar kedua sikap tersebut tidak menggelincirkannya pada tindakan yang dapat mengganggu siswa dalam proses belajarnya maka keduanya perlu dilengkapi atau didukung dengan sikap trust dan  empathy. Dengan sikap trust berarti guru percaya bahwa setiap siswa pada dasarnya dapat dipercaya. Sebaliknya ia pun percaya bahwa siswa-siswanya mempercayainya. Bahkan ia percaya bahwa setiap siswa memiliki kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. Adapun yang dimaksud engan empathy yaitu ketulusan dan kemampuan guru tersebut untuk ”menerima” siswa-siswanya secara holistik (holistic acceptance) serta untuk menempatkan dirinya pada diri siswa-siswanya baik secara individual maupun kelompok. Dengan demikian ia harus mau dan mampu memperlihatkan dan menerima kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan para siswanya. Ia pun harus mau dan mampu  memikirkan apa yang kira-kira sedang difikirkan  siswanya dan merasakan apa yang sedang dirasakan  siswanya. Pada akhirnya ia harus mau dan mampu menyesuaikan  sikap dan tindakannya dengan kelebihan dan kelemahan serta situasi yang sedang dihadapi siswa-siswanya. Secara  operasional, ia harus mau dan mampu  memperhatikan antara lain minat, kemampuan, motivasi belajar, cara belajar, kebiasaan , karekter, latar belakang sosial ekonomi, hubungan antar pribadi, dan kesulitan  belajar yang dihadapi siswanya. Selanjutnya ia berupaya menyesuaikan  sikap dan tindakan  atau layanan  sosial-profesionalnya dengan berbagai perbedaan individual tersebut.

Dengan keempat sikap fasilitator belajar tersebut guru diharapkan  dapat menciptakan situasi atau iklim  pembelajaran  yang menyenangkan, mengasyikan, menyejukkan, membetahkan, menguatkan, penuh rasa aman, dan nyaman serta sekaligus bebas dari segala bentuk tekanan negatif atau teror  psikologis. Pada gilirannya situasi semacam itu akan memantulkan  dampak positf pada guru itu sendiri, yakni tumbuhnya perasaan puas,  sense of success dan bahkan  perasaan bahagia pada dirinya. Keadaan demikian dapat terjadi pada diri guru yang telah dapat menciptakn suatu situasi yang kondusif bagi pembelajaran yang berkualiatas tinggi baik proses maupun hasilnya, sebagi titian pendidikan kearah lahirnya generasi hari esok yang  berkecerdasan majemuk, kuat kokoh, tahan uji dan berdaya saing tinggi serta marketable.

No comments:

Post a Comment

KRITIK DAN SARAN ITU YANG DIHARAPKAN..
SILAKAN TINGGALKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI BLOG INI...

affiliate